Minggu, 21 Juni 2015

Populasi dan sampling penelitian

A.       Latar Belakang
Penelitian adalah pekerjaan ilmiah yang bermaksud mengungkapkan rahasia ilmu secara obyektif, dengan dibentengi bukti-bukti yang lengkap dan kokoh. Penelitian merupakan proses kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala melalui cara tersendiri sehingga diperoleh suatu informasi. Pada dasarnya, informasi tersebut merupakan jawaban atas masalah-masalah yang dipertanyakan sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian juga dapat dipandang sebagai usaha mencari tahu tentang berbagai masalah yang dapat merangsang pikiran atau kesadaran seseorang.
Sebagian dari kualitas hasil suatu penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data yang digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat, dan reliable. Untuk memperoleh data seperti itu, peneliti dapat menggunakan metode, teknik, prosedur, dan alat-alat yang dapat diandalkan. Ketidaktepatan dalam penggunaan intrumen penelitian tersebut dapat menyebabkan rendahnya kualitas penelitian.
Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah. Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan yang paling relevan dengan pertanyaan serta menghindari adanya bias. Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data atau

informasi yang diperolehnya
Dalam penelitian, salah satu bagian dalam langkah-langkah penelitian adalah menentukan populasi dan sampel penelitian. Seorang peneliti dapat menganalisa data keseluruhan objek yang diteliti sebagai kumpulan atau komunitas tertentu. Seorang peneliti juga dapat mengidentifikasi sifat-sifat suatu kumpulan yang menjadi objek penelitian hanya dengan mengamati dan mempelajari sebagian dari kumpulan tersebut. Kemudian, peneliti akan mendapatkan metode atau langkah yang tepat untuk memperoleh keakuratan penelitian dan penganalisaan data terhadap objek. Untuk  itu kami akan mengkaji lebih dalam mengenai populasi dan sampel.
B.        Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan populasi dan jenis-jenisnya?
2.      Apakah yang dimaksud dengan sampel?
3.      Apakah yang dimaksud dengan teknik sampling?
4.      Bagamaimanakah cara untuk menentukan ukuran sampel?
C.       Tujuan Pembuatan Makalah
1.      Menguraikan pengertian populasi dan jenis-jenisnya
2.      Menguraikan pengertian sampel
3.      Memaparkan teknik sampling
4.      Menjelaskan cara untuk menentukan ukuran sampel
D.       Metodologi Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan, yakni

mendapatkan sumber informasi yang berasal dari media cetak berupa buku.

II.                PEMBAHASAN
A.       Populasi
Populasi berasal dari kata bahasa inggrispopulation, yang berarti jumlah pendudukPopulasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013: 117).  Menurut Nazir (1983:327) mengatakan bahwa popuasi adalah berkenaan dengn data bukan barang atau bendanya. Pengertian lainnya, diungkapkan oleh Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian. Sedangkan Riduwan (2002: 3) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran menjadi objek penelitian.
                                       Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat – syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian. Kaitannya dengan batasan tersebut, populasi dapat dibedakan berikut ini :
1.      Populasi teoritis (Theoritical Population), yakni sejumlah populasi yang

2.      batas-batasnya di tetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang lebih luas, maka di tetapkan terdiri dari guru; berumur 25 tahun sampai 40 tahun, program S1, jalur tesis, dll.
3.      Populasi yang tersedia (Accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara kuantitatif dapat di nyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota Bandung terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah di tetapkan dalam populasi teoritis.
Bedasarkan sifatnya, populasi dapat digolongkan menjadi populasi homogen dan populasi yaitu :
1.       homogeny adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang sama   sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.
2.      Populasi heterogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang berbeda (bervariasi) sehingga perlu ditetapkan batas – batasnya, baik secara kualiatif maupun kuantitatif.
B.        Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada pupulasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti daapat menuggunakan sampel yang diambil dari populasi itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yangdiambil dari populasi betul-betul representatif (mewakili).

Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel beikut ini:
1.      Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui  dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu  sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan  data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
2.      Masalah biaya
Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih – lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
3.      Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu,apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel,dalam hal ini, lebih cepat.
4.      Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan

semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.
5.      Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
6.      Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian  sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi (sudjana, 1975:159-161); ( Hadari Nawawi,1923: 146-148).
Selanjutnya, mengenai penetapan besar kecilnya sample tidaklah ada suatu ketetapan yang mutlak, artinya tidak ada suatu ketentuan berapa persen suatu sample harus diambil. suatu  hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas dan heterogenitas populasi. Jika keadaan populasi homogen, jumlah sample hampir-hampir tidak menjadi persoalan, sebaliknya,jika keadaan populasi heterogen, maka pertimbangan pengambilan sample harus memperhatikan hal :
1.      Harus diselidiki kategori-kategori heterogenitas.

2.      Besarnya populasi dalam tiap kategori.
Karena itu informasi tentang populasi perlu dikejar seberapa jauh dapat diusah1akan. Satu hal yang perlu diingat, bahwa penetapan jumlah sampel yang terlalu banyak selalu lebih baik dari pada kurang (oversampling is always better than undersampling).
Menurut Narbuko & Abu (2013: 108) Petunjuk - petunjuk untuk mengambil sampel :
1.      Daerah generalisasi
Yang penting disini adalah menentukan dahulu luas populasinnya sebagai daerah generalisasi, selanjutnya barulah menentukan sampelnya sebagai daerah penelitiannya. Di sampling itu, yang penting adalah : “ kalau yang diselidiki hanya satu kelas saja, jangan diperluas sampai kelas-kelas lainnya apalagi menyimpulkan untuk sekolah-sekolah lain”.
2.      Pengesahan sifat-sifat populasi dan ketegasan batas-batasnya
Bila luas populasinya telah ditetapkan , harus segera diikuti penegasan tentang sifat-sifat populasinnya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan adanya valliditas dan reabilitas bagi penelitiannya. Oleh sebab itu, haruslah ditentukan terlebih dahulu luas dan sifat-sifat populasi, dan memberikan batas-batas yang tegas, kemudian menetapkan sampelnya. Jangan terjadi kebalikannya,yaitu menetapkan populasilah yang lebih dahulu baru kemudian sampelnya.
3.      Sumber-sumber informasi tentang populasi
Untuk mengetahui ciri-ciri populasinya secara terperinci dapat diperoleh melalui bermacam-macam sumber informasi tentang populasi tersebut. Misalnya, sensus penduduk dokumen-dokumen yang disusun oleh instansi-instansi dan organisasi-organisasi, seperti pengadilan, kepolisian, kantor P & K, kantor kelurahan, dan sebagainnya.
Meskipun demikian, haruslah diteliti kembali apakah informasi tersebut telah menunjukkan validitasnya (kesahihan) . Hal itu perlu karena jangan sampai terjadi data tahun 1954 masih dipakai sebagia sumber untuk tahun 1965, misalnya bila tahun 1954 tercatat jumlah anak rata-rata dalam seiap keluarga 4 orang, maka pada tahun 1965 jumlah anak rata-rata mungkin tidak seperti itu (4 orang).
4.      Menetapkan besar kecilnya sampel
Mengenai berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk

sebuah penelitian, memang tidak ada ketentuan yang pasti.
5.      Menetapkan teknik sampling
Dalam masalah sampel , ada yang disebut biased sampel , yaitu sampel yang tidak mewakili populasi atau disebut juga dengan sample yang menyeleweng. Pengambilan sampel yang menyeleweng disebut : biased sampling. Biased sampling adalah pengambilan sampel yang tidak dari seluruh populasi, tetapi hanya dari salah satu golongan populasi saja, tetapi generalisasinya dikenakan kepada seluruh populasi.Contoh : misalnya mengadakan penelitian tentang penghasilan rata-rata orang indonesia hanya diambil sample yang kaya raya saja, ataupun hanya yang melarst ? miskin saja. Dengan sendiriny akan mengakibatkan adaanya kesimpulan yang menyeleweng atau disebut biased conclusion.
Keuntungan menggunakan sampel yaitu
1.      Memdahkan peneliti untuk jumlah sampel lebih sedikit dibandingkan dengan enggunakan populasi dan apabila populasinya terlalu besar dikhawatirkan akan terlewati.
2.      Penelitian lebih efesien ( dalam arti menghemat uang, waktu dan tenaga).
3.      Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data artinya jia subjeknya banyak dikhawtirkan adanya bahaya bias dari orang yang mengumpulkan data, karena sering dialami oleh staf bagian pengumpulan dat mengalami kelelahan sehingga pencatatan data tidak akurat.
4.      Peneitian lebih efektif, jika penelitian bersifat destruktif(merusak) yang menggunakan spesemen akan hemat dan bias dijangkau tanpa merusak semua bahan yang ada serta bias digunakan untuk menjaring populasi yang jumlahnya banyak.
C.       Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya,

dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling.
1.      Random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).
a)         Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana
Teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel.
b)      Proportionate Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan
Teknik ini biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Misalnya sekolah, terdapat

beberapa tingkatan kelas. Jika tingkatan dalam populasi diperhatikan, mula-mula harus dipastikan strata yang ada, kemudian tiap strata diwakili sampel penelitian.
c)      Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan junlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU dan SMP.
d)     Cluster Sampling atau Area Sampel
Teknik ini digunakan jika populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok atau cluster. Misalnya, penelitian dilakukan terhadap populasi pelajar SMU di suatu kota. Untuk itu random tidak dilakukan secara langsung pada semua pelajar, tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
2.      Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak
Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberipeluang/ kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2013:122). Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa

disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti. Teknik sampel ini meliputi samling sistematis, kuota, aksidental, purporsive, jenuh, dan snowball.
a)      Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
b)      Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

c)      Sampling insidental
Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
d)      Sampling Purporsive
Sampling purporsive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
e)      Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.

f)        Sampling Snowball
Sampling Snowball adalah teknik penentuan sampel yang mla-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar.
D.    Menentukan Ukuran Sampel
Jumlah ukuran sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah anggota populasi itu sendiri. Jadi bila jumlah populasi 1000 dan hasil penelelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 1000 orang. Makin besar jumlah mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, makin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum) (Sugiyono, 2013:126).
Roscoe 1975 (Sugiyono:2013) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel:
1.      Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebayakan penelitian
2.      Jika sampel dipecah kedalaam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat.
3.      Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian.
4.      Untuk Penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eksperimen

5.      yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20
Beberapa rumus untuk menentukan jumlah sampel antara lain=
1.      Rumus Slovin
n =  
n= sampel: N = populasi: d= nilai presisi 95% atau sig= 0.05
2.      Tabel Issac dan Michael
 =
 dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, 10%.
P=Q= 0,5.
D= 0,05.
 S= jumlah sampel





III
ENUTUP
A.       Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a.       Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.
b.       Jenis-jenis populasi: populasi umum dan populasi target
c.       Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu.
d.      Adapun alasan penelitian menggunakan sampel adalah:
Ukuran populasi, Masalah biaya, Masalah waktu, Percobaan yang sifatnya merusak,mMasalah ketelitian,dan Masalah ekonomis
e.        Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.
f.         Teknik-teknik yang di gunakan dalam pengambilan sampel
1.        Probability/Random Sampling
2.       Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak



DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari. 2009. BelajarMudah Penelitian. Bandung: Alfabeta
Darmadi, Hamid. 2013. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta
Dedy. 2012. Makalah Populasi dan Sampel. http//www//.populasi dan sampel\makalah-populasi-dan-sampel2.html. Akses tanggal 10 April 2014
Narbuko, Cholid dan Abu Achamadi.2013.Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Bumi Aksara

Artikel untuk UAS PKN

Nama dosen: Pak Dirgantara Wicaksono
Mata kuliah: Pengenvangan Pemb. PKN di SD 



MEMBACA GAYA HIDUP LAMA YANG MODERN
 Abstrak
Membaca adalah kegiatan yang sarat manfaat dan sangat penting dalam kehidupan kita. Banyak orang sukses dan cerdas karena kecintaan mereka membaca buku dan belajar. Oleh sebab itu tingkatkan intensitas membaca terutama di waktu senggang Anda.Rendahnya minat baca masyarakat kita sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, di mana pada akhirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuh kan  minat baca sejak dini.  Kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di hasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, sedangkan ilmu pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan semakin tinggi peradabannya.

1.
Pendahuluan
Buku adalah jendela dunia.
Kalimat tersebut kerap kita jumpai di berbagai toko buku populer yang kita jumpai belakangan ini. Kalimat yang sangat beralasan karena ulasan buku merupakan berbagai informasi yang kita butuhkan. Politik? Ada. Sosial? Ada. Ilmu Pengetahuan? Ada. Sampai bahasan-bahasan yang  lazim kita dengar ada di buku.
Namun yang terjadi belakangan ini dan yang sering kita lihat adalah kurangnya minat membaca di kalangan anak-anak. Hasilnya? Buku-buku yang bertebaran di tukang loak, yang kemudian nanti akan digunakan menjadi benda-benda yang fungsinya jauh dari kata membaca. Miris memang, namunkita tidak lantas menyalahkan orang untuk hal ini. Banyak kesalahpahaman tentang fungsi membaca, khususnya bagi kalangan ekonomi menengah kebawah. Mereka berpikir sekolah hanya tempat mencari ijazah belaka, bukan ilmu sehingga mereka mengesampingkan fungsi membaca di kalangan anak-anak. Padahal nyatanya, minat dan tingkah laku yang paling mudah dibentuk adalah mulai dari anak-anak.
Para orang tua berpendapat kalau setingginya sang anak bersekolah, hasilnya pasti akan mengikuti jejak orang tuanya saja. “Sama seperti kita aja nantinya” begitulah yang terjadi ketika di tanya akan jadi apa anak mereka kelak selepas sekolah wajib 12 tahun. Faktor keturunan yang menjadi kendala, menurut mereka. Padahal, Gen tidak membawa sifat seperti itu. Yang dibawa oleh Gen dan DNA adalah hal biologi seperti rambut, mata, hidung, warna kulit dan sebagainya. Sekali lagi, ini adalah kurangnya membaca bagi orang tuanya juga dulu.
Padahal, membaca adalah hobi segala usia. Harusnya, bukan hanya anak-anak saja yang diwajibkan membaca karena buku tidak terbatas hanya di kalangan usia tertentu saja. Memang ada beberapa buku yang mendapatkan rating untuk dewasa, tapi tetap, buku cerita bisa di berikan kesegala usia. Settidaknya mulai dari situ, minat akan semakin berkembang menjadi hobi.
Terlepas belum terciptanya kehidupan seperti itu, penting sekali pemerintah menggerakan program wajib baca. Buku-buku yang lebih baru lebih di tambahkan, khususnya untuk sekolah-sekolah  di kawasan yang kumuh. Perpustakaan keliling juga di buat lebih menarik seperti di adakan event tahunan seperti lomba-lomba, bukan hanya mobil van putih yang agak besar dengan tulisan biru membosankan yang tertulis “PERPUSTAKAAN KELILING”. Jujur saja, kalau saya melihat hal seperti itu, saya hanya akan menganggap mobil tersebut sebagai lelucon.
2.
Metode
Metode yang digunakan adalah metode kajian pustaka. Karena saya mendapatkan data dari sumber buku, internet, dan data yang sudah ada. Saya rangkum dan saya jadikan satu dalam artikel ini.
3.
Hasil dan pembahasan
a.
Pengertian membaca
Membaca adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang-lambang tulis dengan pengertian yang tepat (Harjasujana & Maryati). Membaca adalah suatu kegiatan berbahasa untuk memahami lambang-lambang bunyi bahasa yang tertulis baik bersuaraataupun tidak dalam memahami informasi-informasi yang disajikan (Herususanto). Membaca adalah proses psikologis, proses sensorik, proses perseptual, dan proses perkembangan (Harras dan Sulistianingsih).
Membaca tidak mengenal usia dan waktu. Tidak ada istilah berhenti untuk menggali ilmu. Membaca berasal dari kata “baca” yang artinya memahami arti tulisan. Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan hasil pengetahuan atau ilmu. Terdapat tiga cara umum membaca dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari tujuan membaca tersebut:
1.
Membaca untuk hiburan yang tidak memerlukan pemikiran yang keras.
2.
Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu.
3.
Membaca kritis yang harus untuk mencari ilmu dan menelaah isi bacaan tersebut.

b.
Manfaat membaca untuk anak
1)
Membaca dapat melatih konsentrasi anak
Seorang anak bisa mencerna setiap informasi jika anak tersebut membaca dalam keadaan yang sadar dan disengaja. Jika anak bersemangat dalam membaca berarti menandakan anak tersebut sedang konsentrasi terhadap bacaannya.
2)
Membaca membuat pengetahuan menjadi luas
Membaca tentu saja merupakan gerbang utama pengetahuan. Dengan membaca, pengetahuan anak akan lebih banyak. Pada gilirannya, bertambahnya pengetahuan anak apabila mendapat respon positif dari lingkungan, khususnya orangtua, akan meningkatkan minat belajar. Anak menemukan keasyikan dengan membaca sebagai salah satu proses belajar, sementara pengetahuan yang diserap melalui membaca meningkatkan rasa ingin tahu dan dorongan untuk menemukan yang lebih besar, sehingga memacu anak belajar lebih keras dalam bentuk eksperimen, mengamati maupun bentuk-bentuk belajar lainnya. Setelah mendapatkan pengetahuan anak  juga akan menggali pengetahuan yang baru yang masih berhubungan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.
3)
Dengan meembaca, melatih kecakapan berbahasa anak
kecakapan berbahasa sangat mempengaruhi keterampilan berpikir logis dan sekuensial. Membaca merupakan cara awal melatih anak untuk cerdas, oleh karena itu pentingnya anak diajarkan membaca bukan hanya oleh guru tetapi orang tua juga sangat berperan penting.
4)
Memanfaatkan waktu luang anak
Masa anak-anak adalah masanya bermain, tetapi jika seorang anak diberikan waktu yang berlebih hanya untuk bermain juga pasti bukan hal yang bagus.
5)
Mengembangkan pusat imajinasi anak
Dengan membaca maka anak akan berimajinasi tentang hal yang dibaca. Caranya dengan menggambarkan kejadian yang telahberlangsung dalam gambar. Maka dengan cara seperti itu anak tersebut dapat mengembangkan imajinasi dan melatih aktivasi otak kanan.
c.
Merangsang anak gemar membaca
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengajak anak agar membaca bisa menjadi hobi. Berikut penulis rangkum cara yang bisa diterapkan:
1)
Berdongeng
Salah satu cara yang paling ampuh adalah memancing anak mendengar cerita cerita. Setelah anak mengetahui cerita yang telah dibacakan, biasanya akan timbul rasa ingin tahu tentang cerita selanjutnya atau cerita yang lebih dari yang sudah diceritakan.
2)
Ajak ke toko buku
Kadang anak tidak punya ide mengenai topik apa yang ia sukai. Ajaklah ia ke toko buku biarkan ia menemukan sesuatu yang menarik dari buku.
3)
Belikan sebuah buku
Majalah anak berisi beragam topik, pasti ada topik-topik tertentu yang disukai anak. Ini dapat membantu anda mengetahui minat baca anak.
4)
Ciptakan lingkungan membaca untuk anak
Sediakan di rumah waktu luang agar anak bisa membaca. Ruangan khusus dirumah yang berisi rak rak buku.
5)
Berikan pengetahuan tentang manfaat membaca
Ini adalah cara terakhir bagaimana anak bisa menyukai membaca, jika anak sudah mengetahui mengapa membaca itu penting pastinya akan sendirinya anak tersebut menyukai bacaan.
4.
Kesimpulan
Seperti yang sudah kita ketahui buku adalah jendela dunia, jika kita membaca buku maka kita mengetahui dunia walau baru saja membacanya. Maka dari itu membaca adalah kegiatan yang positif karena banyak manfaat dari membaca, dari mulai menambah wawasan dan informasi.
5.
Saran
Jika ingin banyak tahu, maka banyaklah membaca.
6.
Daftar Pustaka
H. A, Abd. Rachman, dkk.1983. Minat Baca Murid Siswa Sekolah Dasar di Jawa Timur. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Muktiono, Joko D. 2003. Aku Cinta Buku:Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Putra, R. Masri Sareb. 2008. Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini. Jakarta: PT INDEKS.
Supriyadi. 1986. Pengantar Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Malang: IKIP Malang.
Kamus Besar Bashasa Indonesia Edisi Ketiga. 2002. Jakarta: Balai Pustaka.

http://intips-kesehatan.blogspot.com/2013/11/manfaat-kejut-baca-buku-kesehatan-tubuh.html
diunduh: selasa, 9 Juni 2015
http://www.mizandiansemesta.co.id/meningkatkan-kecerdasan-anak-melalui-membaca/
diunduh: Selasa, 9 Juni 2015



Kamis, 18 Juni 2015

tugas Metodologi Penelitian-Proposal penelitian

nama dosen: dirgantara wicaksono
mata kuliah: pembelajaran PKN di SD



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
PR atau Pekerjaan Rumah yang sering diberikan oleh guru pada akhir pembelajaran sangat membantu siswa untuk bisa lebih memahami materi yang diberikan oleh guru. Karena siswa mengulang materi dirumah dan dapat mampu menimbulan minat siswa. Tetapi ternyata adanya tugas rumah yang diberikan oleh guru terkesan masih membebani siswa karena tugas yang diterima siswa bukan hanya satu melainkan bisa lebih dalam satu hari. Pemberian tugas ini harus sangat jelas. Karena banyak hambatan yang diperoleh
Pemberian tugas rumah adalah salah satu metode dalam proses belajar mengajar dan mempunyai tujuan dan fungsi yaitu dengan melaksanakan  tugas siswa akan aktif belajar dan terangsang untuk bertanggung jawab serta meningkatkan belajar yang lebih baik. Dengan PR juga siswa di didik disiplin disekolah atau dirumah.  Tugas rumah berarti bisa untuk mengajarkan siswa memanajemen waktu  yaitu mengatur waktu kapan harus belajar dan bermain agar tidak berbenturan dengan kegiatan lainnya.
Setelah itu PR bisa membantuk orang tua bagaimana kegiatan anaknya disekolah apakah mengikuti pelajaran atau tidak. Antara orang tua dan anak dirumah bisa semakin erat hubungannya karena setelah siswa selesai mengerjakan tugas orang tua memeriksa kembali pekerjaan rumah anaknya.
Pekerjaan rumah juga bisa digunakan sebagai strategi karena pekerjaan rumah melibatkan siswa untuk mengerjakan tugas yang dikerjakan dirumah. Respon siswa dalam menerima pekerjaan rumah juga harus diperhatikan karena siswa yang rajin lebih menerima tugas yang merasa tertantang tetapi untuk siswa yang malas akan merasa berat jika mendapat tugas yang berat.
Selain siswa yang harus serius mengerjakan tugas rumah, guru juga harus serius mengevaluasi hasil belajar siswa. Tidak boleh memihak kepada siswa yang malas atau rajin guru harus adil. Karena jika guru malas mengoreksinya siswa yang melihat gurunya akan merasa malas juga. Adanya penghargaan terhadap diri sendiri, karena jika siswa mengerjakan tugas dengan benar ada kemungkinan mendapat nilai bagus serta mendapat pujian dari guru, orang tua dan teman.
Dengan latar belakang penulis yang saya tulis diatas saya ingin mengetahui sejauh mana tugas rumah itu dapat meningkatkan prestasi siswa. Karena masih banyak siswa yang tidak mengerjakan tugasnya sendiri. Tugas rumah atau PR tetap tidak bisa menadi acuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, tapi itupun termasuk menjadi usaha siswa agar mau belajar dan mengulang materinya kembalinya.
A.   Identifikasi Masalah
Menurut latar belakang masalah yang dibahas diatas, maka penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.    Apakah Pengaruh Pemberian Tugas Rumah Terhadap Prestasi Belajar Siswa?
2.    Apakah Terbukti Pemberian Tugas Rumah Terhadap Prestasi Belajar Siswa?
3.    Faktor apa saja yang mempengaruhi prestasi belajar siswa?
4.    Seberapa besar pemberian tugas rumah dapat mempengaruhi Prestasi Belajar siswa?
5.    Mengapa pemberian Tugas rumah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa?
6.    Apa manfaat tugas rumah untuk prestasi belajar siswa?
7.    Apakah ada hubungan antara motivasi belajar siswa dalam mengerjakan tugas rumah untuk meningkatkan presasu belajar siswa?
8.    Bagaimana tekhnik tekhnik pemberian tugas rumah agar bisa meningkatkan prestasi belajar siswa?
9.    Apakah siswa yang diberikan tugas rumah dengan yang tidak diberikan tugas rumah terdapat perbedaan prestasi belajar siswa?
10. Apakah ada peran orang tua dalam penyelesaian tugas rumah sehinga terdapat motivasi bealajar siswa?
B.   Batasan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi masalah maka penulis membatasi masalah pada faktor yang akan dijadikan fokus. Dan adapun ruang lingkup yang menjadi fokus masalah adalah hubungan antara tugas rumah dengan prestasi belajar siswa.
C.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah serta pembatasan masalah maka masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana Pengaruh Pemberian Tugas dengan Hasil Belajar”
D.   Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari pemberian tugas.
2.    Untuk mengetahui prestasi belajar siswa jika diberikan tugas rumah.
3.    Untuk mengetahui perbedaan prestasi siswa yang diberikan tugas rumah dengan yang tidak diberikan tugas rumah.
E.   Manfaat Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian berguna untuk pihak-pihak di bawah ini:
1.    Bagi siswa
Untuk menambah motivasi siswa dalam mengerjakan tugas rumah dengan semangat karena akan menambah nilai siswa jika dinilai masih kurang.
2.    Bagi guru
Untuk mengevaluasi kinerja seorang guru, apakah pemberian tugas itu bisa meningkatkan prestasi belajar siswa. Diharapkan dijadikan dasar pemikiran dalam pengambilan keputusan guru dalam memilih metode yang tepat dalam kegiatan pengajaran.
3.    Bagi orang tua
Mengetahui sejauh mana siswa mengikuti pembelajaran disekolah atau tidak karena orang tua bisa melihat bagaimana siswa mengerjakan tugas rumah tersebut.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Kajian Teori
a.    Hakikat pembelajaran
1.  Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkstkan keteramilan, memperbaiki perilaku sikap, dan mengokohkan kepribadian.  Belajar diartikan sebagai aktivitas pengembangan diri melalui pengalaman, bertumpu pada kemampuan diri belajar di bawah bimbingan pengajar. Sedangkan mengajar diartikan sebagai aktivitas mengarahkan, memberikan kemudahan bagaimanan cara menemukan sesuatu (bukan memberi sesuatu) berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh pelajar. (Tirtarahardja & Sula, 2000 : 51).
Sardiman, A.M. (2000 : 21) mendefinisikan ”belajar adalah berubah” dan ”penambahan pengetahuan”. Dalam hal ini yang dimaksud belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapu juga berbentuk kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, waktu, penyesuaian diri. Jelasnya menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi seseorang. Dapat dikatakan juga bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menunjuk ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, efektif dan psikomotorik.
Hasil dari perubahan-perubahan n  itu dapat berupa perubahan tingkah laku, prestasi belajar, sikap dan sebagainya. Dilihat dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku dari yang tidak bisa menjadi bisa dan jika seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya.
2.   Pengertian Pekerjaan Rumah/Resitasi
Menurut Oemar Hamalik (1984: jilid II: 94), ialah sebagai berikut: “Pekerjaan rumah ialah suatu tugas yang diberikan oleh guru kepada murid-murid, tugas mana dikerjakan dan diselesaikan serta dipecahkan di rumah, dalam hubungannya dengan suatu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran. Pekerjaan rumah memberikan kesempatan belajar di rumah dan kegiatan-kegiatan ini merupakan pelengkap bukan sebagai duplikat dari kegiatan belajar di sekolah. Pekerjaan rumah mengandung 3 (tiga) unsur yakni:
a)     unsur tugas
b)     unsur belajar (home study)
c)      unsur penilaian.
3.   Metode Pemberian Tugas Rumah/Resitasi
Metode penugasan merupakan cara penyajian bahan pelajaran. Pada metode ini guru memberikan seperangkat tugas yang harus dikerjakan peserta didik, baik secara invidual atau kelompok. Langkah-langkah yang harus diperhatikan guru pada saat pemberian tugas:
a.    Tugas harus diberikan secara jelas terutama tujuan penugasan dan cara pengerjaannya. Oleh karena itu cara pengerjaannya harus dikomunikasiin kepada peserta didik agar tahu tugas yang harus dikerjakan.
b.    Tugas yang diberikan harus dapat dipahami peserta didik, kapan mengerjakannya, bagaimana cara mngerjakannya, berapa lama harus dikerjakan, secara individu atau kelompok dan lain-lain.
c.    Apabila tugas itu adalah tugas kelompok, arus diupayakan agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat aktif dalam proses penyelesaian tugas.
d.    Perlu diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang diseleikan oleh peserta didik. Jika dikerjakan dikelas guru bisa mengontrol dengan cara berkeliling dan memberikan motivasi dan bimbingan terutama bagi peserta didik, tetapi jika diluar rumah guru bisa menanyakan sampai sejauh mana siswa sudah selesai mengerjakannya.
e.    Melakukan penillaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Penilaian tidak hanya pada hasil kerja siswa tetapi dalam proses mengerjakan tugas tersebut.
4.   Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi bealajar adalah suatu hal yang sudah dicapai oleh seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran. Prestasi belajar juga selalu identik dengan sjauh mana siswa mengerti tentang materi pelajaran yang diterima dalam jangka waktu tertentu. Menurut Hetika ( 2008: 23) prestasi belajar merupakan pencapaian atau kecakapan yang dnampakkan dalam keahlian atau kumpulan pengetahuan. Maka kesimpulan yang dapat ditarik yaitu prestasi belajar adalah hasil dari seseorang melakukan kegiatan pembelajaran. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu:
1.    Faktor-faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari individu anak itu sendiri yang meliputi :
a)    Faktor fisiologis yang termasuk faktor ini antara lain: penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainya.
b)    Faktor Psikologis
Yang termasuk faktor psikologis antara lain:
a)    Intelektul (taraf intelegensi, kemampuan belajar, dan cara belajar).
b)     Non Intelektual (motifasi belajar, sikap, perasaan, minat, kondisi psikis, dan kondisi akibat keadaan sosiokultur).
c)    Faktor kondisi fisik.

2.  Faktor-faktor Eksternal
Yang termasuk faktor eksternal antara lain:
a)    Faktor pengaturan belajar disekolah ( kurikulum, disiplin sekolah, guru, fasilitas belajar, dan pengelompokan siswa ).
b)    Faktor sosial disekolah ( sistem sosial, status sosial siswa, dan interaksi guru dan siswa ).
c)    Faktor situasional ( keadaan politi ekonomi, keadaan waktu dan tempat atau iklim). (W. S. Winkel, 1983: 43).

B.   Kerangka Berpikir
Pemberian PR untuk siswa dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa karena sifat PR menambah nilai siswa yang kurang bukan untuk menduplikasi nilai. Pekerjaan rumah (PR) merupakan kegiatan atau tugas yang diberikan oleh guru pada siswa untuk dikerjakan dirumah. PR sepertinya tidak bisa dilepas dari kehidupan anak yang masih bersekolah. Mengerjakannya adalah sebuah kewajiban bagi mereka. Mengerjakan PR bukan hanya bisa membuat siswa menjadi lebih pandai karena siswa bisa lebih bebas mengeksplore informasi lebih luas dengan waktu yang lebih lama karena mengerjakannya dirumah.
Pemberian PR kepada siswa memang penting, tentu saja yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pengaturan organisasi PR itu sendiri. Tugas yang diberikan dikelola dan ditata menjadi paket yang menarik dan terstruktur bagi siswa. Tidak begitu banyak, dapat dikerjakan, dan tujuan pemberian PR tercapai.
Maka dari itu, terdapat pengaruh antara pemberian Pekerjaan Rumah dengan Prestasi Belajar karena Pekerjaan Rumah juga menjadi alternatif untuk siswa karena jam pelajaran disekolah yang terbilang singkat jadi guru berupaya untuk menguatkan pemahaman siswa tentang suatu materi pembahasan dan dapat berpangruh pada hasil belajar siswa atau prestasi belajar siswa.

C.   Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang harus di uji kebenarannya. Arikunto (2006 :71) mengatakan bahwa hipotesis adalah suatu kesimpulan itu belum final, masih harus dibuktikan kebenaranya atau hipotesis adalah jawaban sementara. Hipotesis juga dapat dikatakan sebagai kesimpulan sementara suatu hubungan variabel dengan satu atau lebih variabel lainnya sehingga hipotesis dapat dikatakan sebagai suatu prediksi yang melekat pada variabel yang bersangkutan. Meskipun demikian, taraf ketepatan prediksi sangat tergantung pada taraf kebenaran dan ketepatan landasan teoritis.
Secara teknis, hipotesis dapat didefinisikan sebagai pernyataan mengenai populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian. Pernyataan tersebut mengindikasi asumsi dasar yang melekat pada populasi yang bersangkutan.
Maka dari variabel yang sudah dikemukakan maka terdapat hipotesis penelitian seperti:
1.    Terdapat pengaruh yang positif antara pemberian Pekerjaan Rumah (PR) untuk prestasi Belajar siswa
2.    PR bisa meningkatkan pemahaman siswa maka dari itu dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.







BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.   Tempat dan Waktu Penelitian
1.    Tempat Penellitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Pesanggrahan 03 Pagi. Alamat: JL. Raya Kodam Bintaro Pesanggrahan – Jakarta 12320. Telp. (021) 7374303.
2.    Waktu penelitian
Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan Januari 2015 sampai dengan Juni 2015, bertepatan dengan pembelajaran semester genap tahun 2015/2016.
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian
No
Jenis Kegiatan
Bulan

Maret
April 
Mei  
Juni   
Juli   
Agustus
1
Penyusunan Proposal





2
Penyusunan Instrumen




3
Uji Coba Instrumen





4
Pengumpulan Data





5
Analisis Data





6
Penyusunan Laporan





7
Sidang Skripsi




8
Revisi skripsi




ΓΌ   

B.   Metode Penelitian
Menurut Jonathan Sarwonno (2006) “metode penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya”. menekankan pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena social. Untuk dapat melakukan pengukuran, setiap fenomena social di jabarkan kedalam beberapa komponen masalah, variable dan indicator. Setiap variable yang di tentukan di ukur dengan memberikan symbol – symbol angka yang berbeda – beda sesuai dengan kategori informasi yang berkaitan dengan variable tersebut. Dengan menggunakan symbol – symbol angka tersebut, teknik perhitungan secara kuantitatif matematik dapat di lakukan sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang belaku umum di dalam suatu parameter. Tujuan utama dati metodologi ini ialah menjelaskan suatu masalah tetapi menghasilkan generalisasi. Generalisasi ialah suatu kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas tentang suatu masalah yang di perkirakan akan berlaku pada suatu populasi tertentu. Generalisasi dapat dihasilkan melalui suatu metode perkiraan atau metode estimasi yang umum berlaku didalam statistika induktif. Metode estimasi itu sendiri dilakukan berdasarkan pengukuran terhadap keadaan nyata yang lebih terbatas lingkupnya yang juga sering disebut “sample” dalam penelitian kuantitatif. Jadi, yang diukur dalam penelitian sebenarnya ialah bagian kecil dari populasi atau sering disebut “data”. Data ialah contoh nyata dari kenyataan yang dapat diprediksikan ke tingkat realitas dengan menggunakan metodologi kuantitatif tertentu. Penelitian kuantitatif mengadakan eksplorasi lebih lanjut serta menemukan fakta dan menguji teori-teori yang timbul.
C.   Variabel dan Definisi Operasional
Variabel merupakan ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. Menurut Y.W Best yang disebut variabel penelitian adalah kondisi-kondisi atau serenteristik-serenteristik yang oleh peneliti  dimanupulasikan, dikontrol atau dioservasi dalam suatu penelitian. Sedang Direktorat Pendidikan Tinggii Depdikbud menjelaskan bahwa yang dimaksud variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Dari kedua pengerian tersebut dapatlah dijelaskan bahwa variabel penelitian itu meliputi faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang kan diteliti.
b. definisi operasional
1.    Pekerjaan Rumah
Tugas yang diberikan oleh guru dan harus dikerjakan oleh siswa dirumah. Pekerjaan rumah memberikan kesempatan belajar di rumah dan kegiatan-kegiatan ini merupakan pelengkap bukan sebagai duplikat dari kegiatan belajar di sekolah. Tentunya pekerjaan rumah berbeda dengan resitasi walaupun sama-sama tugas yang diberikan oleh guru yang berbeda hanyalah tempat pengerjaannya.
2.    Prestasi Belajar
Penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dituliskan dalam bentuk simbol angka atau huruf dan kalimat yang bisa menunjukkan hasil yang telah didapat oleh setiap murid pada periode tertentu. Dari uraian tersebut maka bisa disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah ukuran keberhasilan aktivitas belajar siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode tertentu.
D.   Populasi dan Sampel
1.    Populasi 
Merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya yang menjadi pusat perhatian dan menjadi sumber data penelitian. Populasi berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlah penduduk. Oleh karenaitu, apabila disebutkan kata populasi, orang kebanyakan menghubungkannya dengan masalah-masalahkependudukan. Hal tersebut ada benarnya juga, karena itulah makna kata populasi sesungguhnya.Kemudian pada perkembangan selanjutnya, kata populasi menjadi amat populer, dan digunakan di berbagai disiplin ilmu.
2.    Sampel
Merupakan sebagian atau wakil populasi yang diharapkan mampu mewakili setiap populasinya.. peneliti mengambil contoh sampel dari siswa-siswi kelas 4 yang berjumlah 36 siswa yang terdiri dari 20 siswa dan 16 siswi. Peneliti mengambil contoh sampel Purposive sampling, teknik pengambilan sample didasrkan atas tujuan tertentu. (orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sampel).
E.   Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1.    Observasi
Teknik ini dilakukan dengan turun langsung ke lokasi penelitian, guna meninjau dan mencatat serta mengontrol keadaan lokasi untuk memperoleh data yang diperlukan.
Jenis obsrvasi yang digunakan adalah Observasi Partisipan (Participant Observation) Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data. Dengan observasi partisipasi ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap dan sampai mengetahui apa tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Misalnya, guru yang bertindak sebagai peneliti di dalam kelasnya. Sebagai guru, peneliti hendaknya mencatat hasil pengamatannya secara sistematis.
2.    Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk mencari beberapa literature dan sumber data yang berkaitan dengan masalah penelitian pada skripsi ini yaitu tentang Pengaruh pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap Perilaku peserta didik.
3.    Wawancara
Menurut Esterberg (2002) : Wawancara adalah merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
F.    Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam atau sosial yang diamati, yang secara khusus fenomena itu disebut variabel.Instrument dalam penelitian ini disusun berdasarkan pada kajian teoritis yang telah dipaparkan. Jumlah instrument yang dibuat sebanyak 2 buah, sesuai dengan jumlah variabel dalam penelitian, yaitu: instrument untuk Pemberian Pekerjaan Rumah (variabel x) dan insrtumen untuk mengukur Prestasi Belajar siswa (vvariabel y).
Tabel 3.2
KISI-KISI INSTRUMEN
Kisi-kisi instrumen menggunakan teknih pengambilan data dengan observasi.

NO

ASPEK

INDIKATOR

1.

Pekerjaan Rumah

a.    Siswa mampu mengerjakan PR tepat waktu.
b.    Siswa mampu bertanggung jawab atas PRnya.
c.    Siswa mengerjarkan PR dengan sungguh-sungguh.

2.     

Prestasi Belajar siswa

a.    Pemahaman siswa tentang suatu materi meningkat.
b.    Presasi siswa meningkat.

G.   Tekhnik Analisis Data
Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, (1975: 79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan pengorganisasian data sedangkan yang ke dua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan menjadi: Analisis data proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data.
Dari uraian tersebut di atas dapatlah kita menarik garis bawah analisis data bermaksud pertama- tama mengorganisasikanm data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen, berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Pekerjaan analisis data dalam hal ini ialah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengategorikannya. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif.





















DAFTAR PUSTAKA

Hamalik Oemar. 2001.Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta:Rineka Cipta

B